DailyWriting

Mempertanyakan Tuhan

Friday, June 09, 2017

Alih-alih kembali pada Tuhan, aku biasanya hanya akan menatap dinding kosong di sekitarku ketika sedang memikirkan sesuatu, berharap menemukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaanku.

Alih-alih kembali pada Tuhan, aku biasanya hanya akan mengkhayal tentang segala kemungkinan-kemungkinan indah yang seharusnya terjadi.

Alih-alih kembali pada Tuhan, aku biasanya hanya akan meratap dan mengutuk ketika sedang suntuk karena hal-hal terkutuk.

Alih-alih kembali pada Tuhan, aku biasanya hanya akan menangis sejadi-jadinya ketika dikhianati orang-orang yang kukasihi.

Alih-alih kembali pada Tuhan dan mengakui kesalahan, aku biasanya hanya akan mempertanyakan Tuhan dan kuasaNya.

Sebagai manusia yang percaya Tuhan dan mengaku mencintai Tuhan, aku sudah jutaan kali melupakan Tuhan.

Bagaimana mungkin aku merasakan ketenangan dan kesenangan jika yang senantiasa kulakukan hanyalah melupakan Tuhan?

DailyWriting

Loving You

Thursday, May 11, 2017

Aku mencintaimu dalam tanya,
dan kata-kata yang menjebak pikiran kita dalam sebuah belantara.
Aku mencintaimu dalam suka,
di tiap-tiap malam yang kauhadirkan dengan nyanyian tidur melambungkan.
Aku mencintaimu dalam duka,
pada hampa yang kauberi di setiap perih-perih tak terperi.
Aku mencintaimu dalam luka,
pada gores-gores tinta merah yang tanpa sadar selalu kautoreh di jantungku.
Aku mencintaimu dalam segala tunggu,
bersama awan-awan kelabu yang mendesakmu jujur bersuara,
kita hanya dua manusia tersesat yang berharap menemukan namun enggan mengusahakan.
Aku mencintaimu dalam semua bentuk kemungkinan paling tidak pasti di muka Bumi,
menelisik ke balik apa-apa saja yang saling kita sembunyikan.

DailyWriting

Membersihkan Beranda

Sunday, April 09, 2017

Pagi-pagiku tak pernah diisi dengan kicauan burung.
Hanya ada deru-deru motor yang kudengar
di kejauhan dari kamarku yang ukurannya tak seberapa.
Dan piring kotor sisa aku makan semalam.
Dan cangkir-cangkir bersemut bekas minum kopi.

Aku akan menyapu beranda rumahku hari ini.
Menyapu bersih sisa hujan badai subuh tadi.
Membuang daun-daun kering itu ke tempat semestinya.
Atau mungkin membakarnya saja,
namun asapnya bisa jadi hal yang menjengkelkan bagi tetangga.

Tamu terakhir yang datang dan singgah
sudah kembali pulang ke rumahnya.
Ia selalu datang di akhir pekan
dengan gula-gula manis yang kumasukkan ke dalam cangkir kopi pahit.
Kukira ia akan jadi penghuni baru di rumahku kelak,
aku lupa ia hanya tamu.

Ia datang tiap akhir pekan
dengan cerita-cerita tak biasa.
Aku suka mendengarnya bercerita,
tentang apapun itu.
Aku mempelajarinya setiap saat,
dari cerita-ceritanya, dan dari caranya bercerita.
Kami selalu duduk di beranda rumahku di sore hari.
Ketika malam menjemput,
ia bilang ia akan pergi untuk beberapa saat karena ada urusan,
lalu akan kembali lagi di akhir pekan mendatang.

Suatu sore di akhir pekan, di berandaku,
aku kembali menunggunya
dengan dua cangkir kopi dan wajah berseri-seri,
namun ia tidak datang kali ini.
Aku menunggu berjam-jam.
Satu, dua, tiga jam. Hingga malam.
Ah kupikir mungkin ia tersesat,
lupa jalan ke rumahku,
atau ia sudah menemukan rumah baru dengan beranda yang lebih apik,
atau ia bosan dengan kopi buatanku,
atau sudah enggan bercerita kepadaku.
Atau bisa saja sesederhana ia hanya tak ingin datang lagi.

Hingga saat ini, sudah beberapa akhir pekan kulewati
dengan tetap menunggunya di beranda,
namun ia tak kunjung hadir dengan cerita-ceritanya.
Aku pun mulai kekenyangan menunggu
dengan pertanyaan-pertanyaan
yang tak kunjung dapat kujawab.

Jadi kuputuskan saja untuk membersihkan berandaku hari ini,
memperindahnya, menghiasnya dengan nuansa baru,
kalau-kalau nanti akan ada yang berkunjung lagi,
atau malah bersedia menetap
untuk menemaniku menjadi tuan rumah.
Bisa jadi orang lain, seorang asing yang baru.
Atau mungkin nanti ia akan datang lagi
di suatu sore di akhir pekan dengan cerita-cerita baru.
Atau malah tidak sama sekali.

DailyWriting

Resah

Saturday, January 21, 2017

Harusnya ikut kututup tirai-tirai langit itu
ketika matahari menyembunyikan rupanya
di balik selimut luas yang kausebut laut,
untuk sekadar menyamarkan gundah-gundah
yang tak patut kita sembah.

Bersama dengan sosokmu yang pudar
dalam hening-hening lampu temaram,
kupastikan aku masih dapat melihatmu
duduk menatapku nanar
dengan segala macam kegelisahan
yang tidak pernah benar-benar kauucapkan.

Aromamu selalu lebih tajam dari puluhan belati,
dan aku rela ditikam berkali-kali.
Sekali lagi kurengkuh tubuh ringkihmu yang meringkuk tertunduk,
di sela-sela jariku pada tiap-tiap helai rambutmu,
ada detak jantungku yang berderu menggebu-gebu.

Kuperhatikan terus wajahmu yang minim mimik-mimik,
senyum-senyum letih itu terus saja membuatku bergidik.
Dalam sisa-sisa tenaga yang kaupunya,
hangat tubuhmu tetap mampu memelukku begitu eratnya.

Kita telah cukup lelah menggapai sesuatu yang tak tercapai,
namun katamu belum tiba gagal itu,
dan belum saatnya berhenti menyusuri hilir yang dituju.

Katamu daun-daun dan ranting-ranting itu masih tumbuh,
dan keyakinan-keyakinan itu,
kaubilang kita hanya perlu bersungguh-sungguh.

Dengan segala ketidakmampuan merealisasikan bentuk-bentuk asa,
tetap setia kita teriakkan doa-doa kepada Dia Yang Esa.

Tuhan,
pada dinding-dinding hati yang merekah rasa gelisah berbongkah-bongkah,
resah-resah itu lenyapkanlah.

DailyWriting

Di Toko Buku

Sunday, November 13, 2016


Sore itu, senja menyapa tanpa kata. Hanya ada kita dan pasang-pasang mata yang enggan menatap, dan bibir-bibir bungkam yang menolak bersuara. Adalah sosokmu yang datang dengan sepasang sepatu coklat, dan kemeja hijau tua yang warnanya lebih gelap dari langit. Dalam sebuah ruangan hangat dengan rak-rak terisi banyak buku bersampul aneka rupa, mereka seolah menunggu kita saling bertegur sapa.

Sore itu, aku mengambil kesimpulan bahwa kau lebih menarik untuk kubaca dibanding buku dengan judul dan alur cerita apapun. Atau dari cakram padat berisi puluhan gubahan dengan berbagai aliran, suara rendahmulah yang lebih kutunggu-tunggu untuk melagu.

Sore itu, aku membaca binar-binar matamu ketika kaubercerita tentang hal-hal yang kausuka, atau ketika kau sekadar ikut menyanyikan lagu-lagu asing entah milik siapa. Dan gerak-gerak tanganmu di udara lepas. Dan senyum-senyum tipis penuh daya magis. Dan semua gestur milikmu. Semua itu kubaca tanpa rasa ragu.

Sore itu, dan sore-sore di hari-hari berikutnya, di sebelahmu adalah tempat paling liar di muka bumi, diiringi tawa-tawa riuh itu, dan bagaimana kaumenyentuhku tanpa kau perlu menggunakan kedua tanganmu. Kuyakini kita tidak akan kehabisan waktu untuk terus membaca lembar demi lembar yang tersaji.

Sebab kau adalah kumpulan buku-buku yang sampulnya temaram lalu menjadi satu. Seperti senja sore itu, kau hadir suguhkan ribuan hal dan cairkan sudut-sudut hati yang beku. Lalu aku adalah buku yang dikurung oleh gembok dengan kunci yang tersimpan entah di mana, namun untukmu, kuberikan kunci itu secara cuma-cuma. Ketika kau mulai membaca, akan kautemukan segala macam yang mengisi jiwa.

Dan kita adalah buku dengan kertas berjumlah tanpa batas, dengan warna-warni imaji menggeliat bebas, yang memilih untuk bertukar ragam cerita, berharap saling menemukan banyak kejutan setiap kali membuka halaman selanjutnya.

Sungguh aku menikmatinya, di toko buku sore itu, dan tentu saja sore-sore di hari-hari berikutnya, bersama aromamu yang lebih tajam dari lembar-lembar sebuah buku baru.



Jakarta, November 9th, 2016

DailyWriting

Deret Angka Tanpa Makna?

Wednesday, April 13, 2016


Hidup seperti matematika, katanya. Hampir semua hal dalam hidup ini berhubungan erat dengan angka. Mulai dari tanggal, bulan, dan tahun lahirmu, usia, tinggi dan berat badanmu, pukul berapa kamu tidur, berapa indeks prestasi komulatif yang kamu dapat di kampus, sampai total gaji yang kamu terima setiap bulannya. Semuanya berhubungan dengan angka. Tanpa angka, akan dengan apa semua hal tadi dijelaskan? Bagaimana caramu membeli sepatu jika tidak ada angka? Haruskah kamu mengukur panjangnya dengan alat lainnya? Tapi lagi-lagi, kamu pun butuh angka untuk melakukan itu.

Belasan deret angka yang ada dalam total rekeningmu di bank mungkin dapat memperlihatkan bahwa kamu adalah seorang pengusaha sukses, kamu mampu membeli rumah di mana pun kamu mau, dengan mobil-mobil harga ratusan juta yang terparkir anggun dalam garasi yang dirancang sedemikian rupa keamanannya.

Tiga digit angka pada indeks prestasi komulatif yang disebut oleh rektormu ketika wisuda, serta berapa lama kamu menghabiskan waktumu dalam sebuah institusi pendidikan tinggi dapat membuat orangtuamu bangga atau malah membuatmu malu, ketika semua wisudawan, wisudawati, dan hadirin tahu bahwa kamu membuang waktumu—mereka bilang lulus kuliah terlalu lama adalah buang-buang waktu— lebih lama dibanding yang lainnya.

Mereka bilang, angka-angka yang muncul pada alat ukur ketika kamu mengukur tinggi dan berat badanmu dapat menentukan betapa dirimu menarik atau tidak. Bahkan, dalam sebuah tes pendidikan atau pekerjaan yang memiliki standarisasi tertentu, angka-angka tadi bisa saja dengan mudah membuatmu diterima atau ditolak.

Sebegitu pentingnya deretan angka dibutuhkan dalam segala hal, namun apakah angka serta-merta dapat menjadi tolak ukur dalam segala hal pula? Saya rasa, kesuksesan, kecantikan, atau apapun hal di dunia ini—yang mayoritasnya menuntutmu untuk memiliki angka tinggi—yang ada dalam hidup manusia, tidak dapat ditakar dengan permainan angka-angka yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Jangan biarkan deret angka tanpa makna itu mendefinisikan siapa, bagaimana, dan seberhasil apa dirimu dalam hidup.

DailyWriting

Senandika

Thursday, February 04, 2016

Malam menjadi pucuk-pucuk segala rupa.
Bagi kata-kata mengutuk,
Untuk kepala-kepala yang terantuk,
Dan jiwa-jiwa penuh rasa kantuk.

Kepadanya semua pulang,
Bernaung di bawah tempat usang yang kau sebut rumah.
Dibalik selimut apek yang tak dicuci berminggu-minggu,
Kau mengadu pada sang ibu ketika ibu pertiwi terasa tiri.

Kau memimpikan hujan-hujan,
Penghilang rasa haus dahaga dan gersang.
Dalam pelukan semesta,
Bersama mimpi-mimpi yang hilang,
Ditelan para penguasa jalang.

Bintang-bintang yang kau hitung tiada guna,
Ada ribuan bahkan jutaan,
Lenyap bersama sang gelap.

Kemana, kemana sang bulan pergi?
Oh, rupanya sedang ngopi-ngopi bersama matahari.

Ada gumpalan hitam menuju dimensi lain,
Ternyata itu yang mereka sebut lubang cacing.
Membawa tubuh ringkihmu pergi,
Dari dunia yang timbulkan perih tak terperi.