Senandika

Thursday, February 04, 2016

Malam menjadi pucuk-pucuk segala rupa.
Bagi kata-kata mengutuk,
Untuk kepala-kepala yang terantuk,
Dan jiwa-jiwa penuh rasa kantuk.

Kepadanya semua pulang,
Bernaung di bawah tempat usang yang kau sebut rumah.
Dibalik selimut apek yang tak dicuci berminggu-minggu,
Kau mengadu pada sang ibu ketika ibu pertiwi terasa tiri.

Kau memimpikan hujan-hujan,
Penghilang rasa haus dahaga dan gersang.
Dalam pelukan semesta,
Bersama mimpi-mimpi yang hilang,
Ditelan para penguasa jalang.

Bintang-bintang yang kau hitung tiada guna,
Ada ribuan bahkan jutaan,
Lenyap bersama sang gelap.

Kemana, kemana sang bulan pergi?
Oh, rupanya sedang ngopi-ngopi bersama matahari.

Ada gumpalan hitam menuju dimensi lain,
Ternyata itu yang mereka sebut lubang cacing.
Membawa tubuh ringkihmu pergi,
Dari dunia yang timbulkan perih tak terperi.

You Might Also Like

0 comments